Photo

Laju Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Masih Positif Pada Tahun 2018

by Wida Yodik

Eric Alexander, Chief Economist SKHA Institute for Global Competitiveness (SIGC), memberikan pendapatnya bahwa pada tahun depan (2018), laju pertumbuhan ekonomi Indonesia masih dalam trend positif, yaitu masih berada di kisaran level 5,3%, atau akan lebih tinggi 0,2% dari laju pertumbuhan tahun ini sebesar 5,1%.

Hal tersebut sejalan dengan pertumbuhan konsumsi masyarakat yang akan menjadi mesin penggerak utama ekonomi di Indonesia, dibantu oleh program-program populis serta padat karya dari pemerintah pusat maupun daerah, untuk memperbaiki daya beli masyarakat.

Dia menjelaskan bahwa adanya kenaikan harga komoditas di pasar global, akan memberikan dampak positif pada daya beli rumah tangga, karena income mereka yang berkaitan dengan komoditas akan naik. Terutama pada sektor : Perkebunan, Penggalian, Pertambangan, serta Industri Pengolahan Komoditas.

Selain itu, di prediksikan bahwa investasi juga bisa mengalami pertumbuhan yang lebih cepat, dibantu oleh penguatan demand / permintaan dari pihak rumah tangga, sehingga dana yagn di investasikan bisa bertambah dengan peluang keuntungan yang tinggi. Dia  menambahkan bahwa Sektor Ekspor juga akan memiliki kenaikan didukung oleh harga komoditas serta pertumbuhan demand global yang menguat.

Selama 2 tahun ke depan akan ada event politik, yaitu Pilkada Serentak & Pemilihan Presiden,  yang bisa menaikkan spending dari pemerintah untuk belanja Partai Politik (Parpol). Jadi bisa dipastikan daya dorong beli serta efek kepada hampir seluruh lapisan masyarakat akan terjadi.

Sedangkan untuk sektor lapangan usaha, sektor-sektor yang akan menjadi pendorong utama adalah perdagangan, manufaktur, konstruksi, pertanian, serta informasi dan komunikasi.

Faktor terakhir yang memiliki pengaruh paling besar adalah peningkatan ekspor yang diprediksikan akan terus berlanjut, khusunya batubara dan CPU. Apalagi trend komoditas masih akan terus positif disebabkan oleh faktor meningkatnya ketegangan di daerah Timur Tengah, serta kenaikan demand dari China.

Related Articles