Photo

Investasi Syariah Lebih Tahan Krisis Ketimbang Konvensional

by Superadmin

Kinerja investasi syariah di pasar modal diyakini masih berpotensi besar untuk tetap tumbuh. Apalagi ketika kondisi perekonomian nasional tidak menentu.

Deputi Direktur Direktorat Pasar Modal Syariah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Muhammad Touriq mengatakan jika hal tersebut karena saham dan produk-produk syariah lainnya di pasar modal lebih tahan krisis dibanding produk investasi konvensional.

Menurutnya, dengan ukuran pasar yang tak sebesar pasar konvensional, kejatuhan nilai produk-produk syariah terbukti relatif tak jauh berbeda dengan pasar konvensional yang memiliki ukuran besar dan variasi produk yang lebih banyak.

"Dalam jangka panjang saham-saham yang di JII (Jakarta Islamic Indeks) performanya berpotensi lebih baik dari indeks LQ 45 di Bursa Efek Indonesia (BEI). Kalapun krisis, turunnya tak terlalu dalam," ungkap Touriq, dalam siaran persnya, di Jakarta, Rabu (30/9/2015).

Lebih lanjut, Touriq menambahkan bahwa sejak 2011, performa Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) yang berisikan 318 saham terus mengalami pertumbuhan positif. Begitu juga dengan JII sebagai indeks saham syariah pilihan yang berisi 30 saham emiten.

Data OJK menyebutkan, dalam periode setahun terakhir (September 2014-September 2015) ketika pasar modal mulai terguncang, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun sebesar 19,9 persen dan ISSU turun 21,2 persen. Sementara LQ 45 sebagai indeks saham pilihan BEI turun 22 persen, dibandingkan dengan JII yang turun 21 persen.

Jika dihitung sejak pertengahan tahun setelah pasar modal anjlok sejak Mei 2015, IHSG tercatat minus 15,6 persen, ISSU turun 16 persen. Sementara LQ 45 turun 18,5 persen dan penurunan JII lebih kecil dengan minus 17 persen.

"Ini menunjukkan produk-produk syariah di saat krisis, lebih tahan banting dibanding konvensional. Sudah terbukti di 2008 juga begitu. Dalam jangka panjang performa indeks saham syariah baik JII maupun ISSI masih kompetitif bahkan bisa di atas yang konvensional," jelasnya.

Ia menuturkan, secara total aset industri syariah nilainya Rp11.000 triliun, yang terdiri dari industri perbankan syariah, pasar modal syariah dan lembaga keuangan nonbank. "Dibandingkan dengan pasar konvensional, syariah memang masih baru, market share masih kecil," tambah dia.

Perbankan syariah per September 2015, pangsa pasarnya masih di kisaran 4,67 persen dari total industri perbankan. Sedangkan asuransi syariah saat ini pangsa pasarnya tercatat sebesar 19,8 persen.

Adapun industri pembiyaan syariah sebesar empat persen. Sementara pasar modal syariah khusus untuk saham, secara konsep mayoritas saham sudah lulus kriteria syraiah, makanya kapitalisasinya sudah sekitar 56,31 persen.

"Ini tantangan untuk mengembangkan lebih besar. Potensinya ada. Indonesia negara berpenduduk muslim terbesar di dunia. Negara-negara Timur Tengah, Asia dan Eropa melihat Indonesia sebagai raksasa yang sedang tidur," pungkas dia. 

Related Articles