Photo

Teh Sekarang Masuk Bursa Komoditas

by Superadmin

Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditas (Bappebti) telah menyetujui teh sebagai salah satu komoditas yang diperdagangkan di bursa berjangka komoditas.

“Komoditas teh sudah kami setujui. Sekarang tinggal dibuat aturan mainnya. Paling tidak, dua bulan nanti sudah bisa diperdagangkan,” kata Kepala Bappebti Kementrian Perdagangan, Sutriono Edi, di Jakarta, Rabu (9/9). 

Menurut Sutrisno, selama ini Bappebti telah mendorong bursa meningkatkan transaksi fisik dan berjangka untuk komoditas unggulan ekspor Indonesia, seperti crude palm oil (CPO), olein, kopi, kakao, timah, serta mengkaji kontrak baru seperti teh, pala, dan rumput laut. 

Salah satu bentuk komitmen peningkatan transkasi multilateral adalah peningkatan kontrak kopi robusta berjangka di Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) bulan Agustus sebanyak 104,97 persen, menjadi 23.022 lot dibandingkan dengan Juli sebesar 11.320 lot. Lonjakan transaksi ini didukung pelaku pasar yang melakukan lindung nilai menjelang puncak panen raya kopi.

Bappebti pun merilis peningkatan transaksi di bursa (multilateral) Januari Juli 2014, senilai Rp 10,39 triliun menjadi Rp 11,55 triliun pada Januari-Juli 2015, atau meningkat 11,17 persen. 

Harga Acuan Dunia
Untuk komoditas CPO, harga yang terjadi dalam Bursa Komoditas dan Derivatif Indonesia (BKDI) sudah dipakai menjadi harga referensi oleh dunia usaha, maupun dalam penentuan Harga Patokan Ekspor (HPE) sebagai harga acuan. Penetapan HPE CPO mulai 1 Juli 2013 sudah mengacu bursa dalam negeri dengan komposisi 60 persen bursa Indonesia, 20 persen bursa Kuala Lumpur, dan 20 persen bursa Rotterdam. 

“Kami juga memiliki komoditas timah yang banyak dihasilkan di Indonesia. Nantinya harga yang ditetapkan di bursa komoditas kita akan menjadi patokan harga dunia,” ucapnya.

Sutrisno menegaskan, pihaknya akan terus berkomitmen mendorong ekspor pertanian, yang berpotensi memberikan harapan terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam situasi sulit, melalui pembinaan, pengaturan, dan pengawasan Sistem Resi Gudang (SRG). 

Ia menjelaskan, untuk meningkatkan pemanfaatan SRG oleh masyarakat, Bappebti tidak hanya mendorong pelaksanaan SRG untuk komoditas yang mendukung ketahanan pangan, seperti komoditas gabah, beras, dan jagung; tapi juga untuk komoditas rotan dan rumput laut yang memiliki keterkaitan dengan jutaan tenaga kerja dan kehidupan petani.

Pemanfaatan SRG untuk komoditas rotan dilakukan dengan pilot project di sentra hulu, yaitu Katingan dan Palu sebagai lokasi produksi utama rotan, serta sentra hilir di daerah Cirebon sebagai sentra industri rotan.

Untuk mendorong pelaksanaan SRG rumput laut, Bappebti telah memberikan persetujuan kepada gudang milik Kospermindo, PT Rika Rayhan Mandiri dan gudang Koperasi Agro Niaga sebagai gudang SRG. “Melalui gudang-gudang ini, diharapkan SRG dapat dimanfaatkan secara optimal tidak hanya oleh kalangan industri, tetapi juga para petani rumput laut,” katanya.

Selain itu, untuk meningkatakn kinerja Pasar Lelang Komoditas, Bappebti sedang melakukan pembangunan Aplikasi Pasar Lelang Komoditas Terpadu. Aplikasi ini dapat mengintegrasikan data anggota, menyebarluaskan informasi pasar dari seluruh penyelenggara Pasar Lelang Komoditas, dan memungkinkan transaksi secara online.

“Melalui integrasi sistem tersebut, Pasar Lelang Komoditas diharapkan membantu pemasaran seluruh komoditas yang disimpan di gudang SRG. Dengan dukungan sistem informasi pasar lelang yang andal, serta terintegrasinya sistem Resi Gudang dan Pasar Komoditas, pasar lelang dapat menjadi salah satu sarana efisiensi mata rantai perdagangan dan pengendalian inflasi, seperti yang diharapkan Presiden Jokowi,” tutur Sutrisno.

Related Articles