Photo

Jabar Mengalami Kenaikan Ekspor Kopi

by Superadmin

Volume ekspor kopi Jawa Barat sepanjang tahun ini hanya naik tipis sekitar 8% akibat produksinya terganggu selama musim kemarau panjang.

Wakil Ketua Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) Jabar Iyus Supriatna mengatakan volume ekspor kopi sepanjang tahun ini mencapai 7.000 ton, atau hanya naik tipis dibandingkan dengan tahun lalu 6.500 ton.

Padahal, AEKI menargetkan ekspor kopi pada tahun ini bisa mencapai 10.000 ton apabila cuaca mendukung terhadap peningkatan produktivitas tanaman.

Menurutnya, musim kemarau berkepanjangan memicu produksi kopi menjadi terganggu, di mana biji yang dihasilkan banyak yang tidak memenuhi persyaratan.

"Kopi yang dihasilkan sekarang kecil-kecil jadi tidak bisa diekspor. Adapun, standar internasionalnya sebesar 6,5 mm," ujarnya, Jumat (25/9/2015).

Terkait melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, dianggapnya sebagai peluang untuk meningkatkan ekspor kopi.

"Ekspor itu kan menanam rupiah panen dolar. Jadi hal ini sebenarnya merupakan peluang, namun akibat kemarau volume ekspor tidak signifikan."

Dia menambahkan, selama ini ekspor kopi dari Jabar mayoritas melalui Medan dan Surabaya karena untuk ekspor langsung memerlukan modal yang terbilang tinggi.

“Sebenarnya surat izin ekspor langsung kopi dari Jabar sudah bisa berlaku, namun keterbatasan modal membuat mayoritas ekspor terpaksa melalui provinsi lain," ungkapnya.

Dia menjelaskan permintaan kopi dari luar negeri saat ini cukup besar baik untuk pasar Asia maupun Eropa dan Amerika. 

"Pemerintah harus secepatnya menggulirkan insentif bagi petani agar pasar ekspor bisa tumbuh. Apalagi, kopi akan menjadi salah satu komoditas andalan saat pasar bebas Asean," katanya.

Dinas Pertanian Kabupaten Bandung memastikan ekspor kopi dari daerahnya tidak terganggu sekalipun kondisi ekonomi nasional melambat. Justru para petani semakin semangat dalam membudidayakan kopi karena harganya semakin manis di tengah tingginya kurs dolar AS. 

Kepala Dinas Pertanian Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Bandung Tisna Umaran mengatakan saat ini volume ekspor kopi mencapai 7 ton/bulan, termasuk 1 ton di antaranya merupakan kopi jenis luwak.

"Salah satu penyebab tingginya volume ekspor kopi Kabupaten Bandung lantaran namanya kian dikenal dunia, karena sering menjuarai berbagai festival kopi internasional. Dengan begitu, para pecinta kopi semakin mengenalnya," paparnya. 

Pada umumnya kopi asal Kabupaten Bandung dijual ke sejumlah negara seperti Amerika Serikat, Korea Selatan, Australia, Maroko, China dan Jerman. Saat ini, eksportir kopi meraup keuntungan lebih di tengah harga jualnya yang menggiurkan. Sekadar gambaran harga kopi luwak menembus Rp87.000/kg dari sebelumnya Rp69.000.

Related Articles