Photo

Jelang Libur Weekend, Rupiah masih di 13.000

by Superadmin

Nilai tukar Rupiah terhadap Dollar saat ini terapresiasi saat pimpinan bank sentral Amerika Serikat (AS) telah menyatakan seputar kenaikan suku bunga dan juga data makro ekonomi di Indonesia yang masih relatif baik. Rupiah pada Rabu kemarin tercatat pada Rp 13.006 per dolarnya di Jakarta kemarin siang. Rupiah diperkirakan masih akan terus berada pada posisi Rp 12.980 – Rp 13.021.

Pernyataan pimpinan bank sentral Amerika Serikat (AS) Janet Yellen soal kenaikan suku bunga dan data makro ekonomi Indonesia relatif baik memberikan angin segar untuk gerak nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Data valuta asing Bloomberg, Kamis (2/4/2015) menunjukkan rupiah berada di level 13.006 per dolar AS pukul 11.40 waktu Jakarta. Rupiah dibuka menguat 47 poin ke level 13.001 per dolar AS dari penutupan kemarin di level 13.048 per dolar AS. Saat ini rupiah bergerak di kisaran 12.984-13.021 per dolar AS.

Sementara itu, berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) rupiah menguat ke level 13.000 per dolar AS dari periode 1 April 2015 di level 13.043 per dolar AS.

Analis pasar uang PT Bank Danamon Tbk, Dian Eka Ayu menuturkan, gerak rupiah cenderung didorong sentimen eksternal terutama dari AS ketimbang sentimen domestik. Pernyataan Yellen soal kenaikan suku bunga yang kemungkinan dilakukan menjelang kuartal III 2015 memberikan sentimen positif untuk rupiah. Yellen masih melihat indikator ekonomi AS seperti inflasi untuk menaikkan suku bunga.

"Saat ini baru data tenaga kerja AS bagus sedangkan inflasi masih belum. Yellen mau melihat ekonomi AS bergerak sebelum menaikkan suku bunga. Kemungkinan suku bunga naik mundur jadi kuartal III, dan paling kuartal IV 2015," kata Dian, saat dihubungi Liputan6.com.

Ia menambahkan, sentimen dalam negeri belum terlalu mempengaruhi rupiah. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi Maret 2015 sebesar 0,17 persen. Meski demikian Indonesia masih mencatatkan surplus sektiar US$ 740 juta pada Februari 2015.

"Data ekonomi Indonesia naik turun tidak sebanding dengan sentimen eksternal. Saat ini temanya masih penguatan dolar Amerika Serikat," kata Dian.

Dian mengatakan, fokus perhatian pelaku pasar saat ini rilis data tenaga kerja AS pada Jumat pekan ini.

Saat ini, sentimen dalam negeripun belum bisa mempengaruhi Rupiah lebih baik lagi, BPS sendiri mencatatkan bahwa inflasi bulan Maret 2015 mencapai 0,17%. Tetapi Indonesia masih bisa surplus US$ 740juta pada bulan Februari 2015 lalu.

Related Articles