Photo

Rupiah Pengaruhi Properti

by Superadmin

Ketika krisis moneter mendera Indonesia dan sejumlah negara di kawasan Asia pada pertengahan tahun 1998, sektor properti merupakan industri yang pertama kali terkena dampaknya. Ketika itu banyak proyek properti di Tanah Air yang mendadak berhenti sehingga terjadi pengangguran.
Pada masa itu, banyak perusahaan swasta termasuk perusahaan pengembang yang memiliki utang dalam mata uang dollar AS, baik ke bank-bank di dalam negeri maupun di berbagai lembaga keuangan internasional. Karena itu, begitu kurs rupiah merosot tajam terhadap dollar AS, otomatis likuiditas perusahaan pengembang ikut terganggu.
Belum lagi harga berbagai kebutuhan bahan baku untuk pembangunan proyek properti juga mendadak naik. Sektor properti termasuk industri yang pertama kali terkena dampak krisis, tetapi pulihnya kembali (recovery) belakangan.
Saat ini, meskipun potensi perekonomian Indonesia cukup menjanjikan, anggaran negara masih dibayangi oleh defisit neraca transaksi berjalan (current account deficit/CAD). Keadaan ini diperparah dengan pelemahan kurs mata uang rupiah yang saat ini sudah menembus angka Rp 12.000 per dollar AS.
Meskipun saat ini sektor properti sedang mengalami perlambatan, sejumlah perusahaan pengembang masih banyak yang masih mengerjakan berbagai proyek properti.
Muncul ketidakpastian
Menurut Direktur Eksekutif Indonesia Property Watch Ali Tranghanda, pelemahan kurs rupiah belum berpengaruh pada industri properti.
Pada saat mata uang rupiah sudah memperlihatkan kestabilan (keseimbangan baru), justru akan mulai berpengaruh pada sektor properti. Namun, itu pun ada time lag-nya,” ujar Ali Tranghanda.
Harga sewa ruang perkantoran di kawasan pusat bisnis Jakarta, seperti di Jalan Sudirman-Thamrin, biasanya mengacu pada kurs mata uang dollar AS.
Jika dollar AS menguat, dengan sendirinya harga sewanya ikut naik. Namun, biasanya pihak penyewa memberikan keringanan di tengah fluktuasi kurs rupiah seperti sekarang ini.
Bagi pengusaha properti, kurs rupiah yang terjadi sekarang belum terlalu mengkhawatirkan karena biaya produksinya sebagian besar menggunakan bahan baku domestik. Meski demikian, bagi proyek properti premium, seperti apartemen dan kondominium mewah, terdapat barang material yang harus diimpor, seperti kebutuhan pengadaan lift.
Melemahnya rupiah menyebabkan harga material properti mengalami kenaikan. ”Kondisi rupiah yang tidak menentu dirasakan dalam jangka panjang,” ujar Ali.
Pelemahan kurs rupiah saat ini terjadi di tengah masa transisi pemerintahan. Berbagai pihak mengharapkan agar pemerintahan baru Joko Widodo-Jusuf Kalla bisa bekerja sama secara positif dengan Bank Indonesia untuk menstabilkan rupiah.





 

Related Articles