Photo

Hasil Jualan Saham Perusahaan di BEI pada 2013 Capai Rp 48 T

by Superadmin

Sepanjang 2013, ada 30 perusahaan yang go public di Bursa Efek Indonesia dan juga 26 emiten melakukan right issue. Hasil jualan saham sepanjang 2013 itu menghasilkan dana perolehan Rp 48,43 triliun.

Total perolehan dana dari pasar modal khususnya saham mencapai Rp 48,43 triliun hingga pekan kedua Desember 2013. Angka itu belum termasuk penawaran obligasi korporasi sepanjang 2013. Kondisi pasar modal kondusif pada semester pertama 2013 mendukung langkah perusahaan untuk mencari dana di pasar modal.

Jumlah perolehan dana dari pasar modal itu cenderung meningkat pada 2013. Total perolehan dana dari pasar modal mencapai Rp29,96 triliun pada 2012, dan jumlah itu belum termasuk penawaran obligasi.

Mengutip dari data Bursa Efek Indonesia (BEI), perolehan dana dari pasar modal antara lain penawaran saham perdana/initial public offering (IPO) mencapai Rp 14,52 triliun hingga pekan kedua Desember 2013 dibandingkan tahun 2012 senilai Rp 10,14 triliun.

Ada sebanyak 30 emiten telah mencatatkan saham perdana di Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga pekan kedua Desember 2013. PT Industri Farmasi dan Jamu Sido Muncul Tbk akan mencatatkan saham perdana di BEI pada 18 Desember 2013.

Lalu penawaran umum terbatas (PUT) atau rights issue mencapai Rp 31,70 triliun hingga pekan kedua Desember 2013 dibandingkan tahun 2012 senilai Rp 18,19 triliun. Sementara itu, penerbitan waran mencapai Rp 2,21 triliun dari tahun 2012 senilai Rp 1,64 triliun.

Adapun total penawaran obligasi korporasi sepanjang 2013 mencapai Rp 55,66 triliun hingga pekan kedua Desember 2013 dari perolehan 2012 senilai Rp 69,36 triliun. Untuk penawaran obligasi dalam denominasi dolar mencapai US$ 190 juta dari tahun 2012 senilai US$ 20 juta.

Analis PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo), Ahmad Sujatmiko menuturkan, kondisi makro ekonomi relatif baik pada semester I 2013 mendukung pasar modal. Hal itu didukung dari suku bunga rendah.

"Kondisi pasar modal cukup bagus pada semester pertama 2013. Secara makro ekonomi juga terlihat baik. Suku bunga rendah di semester pertama 2013 meski memang ada perlambatan ekonomi. Banyak perusahaan melihat pasar modal jadi tempat baik untuk cari dana selagi pertumbuhan ekonomi masih positif," ujar Ahmad, seperti ditulis Minggu (15/12/2013).

Meski demikian, rencana bank sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve untuk menarik dana stimulusnya membuat gejolak di pasar keuangan dan pasar modal. Apalagi nilai tukar rupiah melemah dan suku bunga acuan/BI Rate naik mengingat defisit neraca perdagangan dan transaksi berjalan membesar.

Menurut Ahmad, isu rencana The Federal Reserve menarik dana stimulusnya pada semester kedua 2013 telah membuat perusahaan dan emiten lebih berhati-hati untuk mencari dana lewat pasar modal terutama penawaran obligasi.

"Tapering agak sedikit menurunkan minat untuk melakukan penerbitan obligasi karena dana yang ditanggung harus lebih besar," kata Ahmad.

Related Articles