Photo

Masyarakat mulai irit belanja, Mall terancam bangkrut

by Superadmin

Perlambatan pertumbuhan ekonomi yang terjadi sejak awal tahun ini membuat kalangan dunia usaha khawatir. Pengusaha curhat, banyak konsumen datang ke mal tapi tak belanja.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Sofjan Wanandi mengeluhkan kondisi ini disinyalir akibat perekonomian Indonesia yang terus turun. Termasuk pelaku usaha sektor ritel. Meskipun beberapa mal dan pusat perbelanjaan dipenuhi konsumen, tapi kebanyakan mulai memperketat belanja mereka.

“Mal memang banyak orang, tapi laporan ritel mereka merasakan penurunan penjualan mereka. Ritel restoran misalnya banyak orang masuk di food court sekarang dan bukan restoran utama,” ucap Sofjan di Hotel Sultan, Jakarta, kemarin. Lantaran sepi konsumen, mayoritas pengusaha ritel mulai jor-joran memberikan diskon untuk menarik perhatian pengunjung.

“Restoran tidak ada yang tidak kasih diskon. Mulai bintang 5 dan restoran kecil. Ini susahnya pengusaha sekarang,” katanya. Penetrasi keberadaan mal Jakarta, ternyata dinilai sejumlah pengamat tidak sebanding dengan pertumbuhan pendapatannya. Tidak sedikit mal mewah yang berada di jantung kota, sepi pengunjung, dikalahkan oleh ramainya pasar tradisional atau pusat grosir Tanah Abang.

Pengamat Kebijakan Publik Andrinof Chaniago menilai mal di jakarta hanya sebagai pelampiasan warga ibu kota untuk berekreasi atau berwisata untuk lari dari rutinitas sehari-hari karena minimnya fasilitas publik. “Animo masyarakat terhadap mal atau one stop shopping yang bergengsi sudah mulai meredup,” katanya.

Dia menilai banyak mal yang sudah terlanjur dibangun ternyata dalam perkembangannya tidak terlalu diminati masyarakat bahkan banyak gerai yang kosong ditinggalkan pedagangnya. Hal ini bisa dilihat dari salah satu mal seperti Citywalk Sudirman atau Central Park.

“Rata-rata masyarakat sudah mulai jenuh dengan aktivitas ke pusat perbelanjaan yang monoton, tidak hanya mall kelas menengah bahkan kelas atas sekali pun,” ujarnya.

Dia mengatakan lesunya penjualan barang di mal Jakarta, selain sudah terlalu banyak mal yang menjamur seantero Jakarta. Perkembangan bisnis belanja online memberikan pengaruh pada kunjungan warga ke mal. Kemudahan belanja online, menjadi alternatif warga kelas menengah atas, untuk memenuhi kebutuhannya.

Bagi seorang Tati (53), pasar Tanah Abang adalah pilihan tempat belanja favorit bagi dirinya. Kualitas terpercaya dengan harga murah meriah dan pas di kantong membuat dia selalu menjatuhkan pilihannya berbelanja pakaian di sana dibandingkan mal. “Di sini bisa ditawar,” ujar Tati.

Bagi dia, belanja di mal atau di pasar sama saja tergantung bagaimana memilih barang. “Lagian kalau diskon, kadang-kadang harganya sudah dinaikkan dulu, kan saya tidak sekali dua kali ke mal,” katanya sambil tersenyum.

Hal senada juga diutarakan, Siska. Sebagai seorang karyawan swasta, dirinya suka berbelanja ke pusat-pusat grosir, salah satunya Tanah Abang, karena harga yang relatif terjangkau dan potong diskon yang lebih murah dibandingkan mal. “Iya saya suka juga ke mal, kadang buat cuci mata,” kata wanita berumur 30 tahun ini.

Ancaman penurunan konsumsi ini tentunya membuat khawatir para pengusaha mal. Pasalnya, hal ini berpotensi membuat para pengusaha tersebut gulung tikar.

Related Articles